Memiliki firewall, Security Operations Center (SOC), penetration testing rutin, serta berbagai kebijakan keamanan belum otomatis membuat bank siap menghadapi audit keamanan.
Saat audit berlangsung, pertanyaannya bukan hanya “apakah kontrol sudah tersedia?”, tetapi juga “apakah bank dapat membuktikan bahwa kontrol tersebut benar-benar diterapkan dan efektif?”.
Inilah pentingnya security audit readiness, yaitu kesiapan organisasi untuk menunjukkan bahwa persyaratan keamanan telah diterjemahkan menjadi kontrol, dijalankan secara konsisten, diuji, serta memiliki bukti atau evidence yang dapat diverifikasi.
Bagi bank, kesiapan tersebut semakin penting karena penyelenggaraan teknologi informasi dan ketahanan siber menjadi bagian dari pengawasan regulator.
Mengapa Security Audit Readiness Penting bagi Bank?
OJK melalui POJK 11/POJK.03/2022 mengatur Penyelenggaraan Teknologi Informasi oleh Bank Umum. Ketentuan mengenai ketahanan dan keamanan siber kemudian diperjelas melalui SEOJK 29/SEOJK.03/2022.
SEOJK 29/2022 antara lain mengatur penilaian risiko inheren keamanan siber secara tahunan dengan mempertimbangkan teknologi, produk bank, karakteristik organisasi, dan rekam jejak insiden siber.
Selain itu, PADK OJK Nomor 1 Tahun 2026, yang berlaku sejak 1 Maret 2026, memberikan pedoman mengenai tata kelola TI, manajemen risiko TI, pengamanan informasi dan jaringan komunikasi, penggunaan penyedia jasa TI, hingga pengendalian dan audit intern.
Artinya, bank perlu memastikan kontrol keamanan bukan hanya terdokumentasi, tetapi juga dapat ditunjukkan efektivitas penerapannya ketika diperiksa.
Apa Perbedaan Audit Readiness dan Security Audit?
Security audit readiness dilakukan sebelum audit untuk mengidentifikasi kelemahan yang masih dapat diperbaiki.
Sementara itu, security audit merupakan proses evaluasi terhadap kondisi dan efektivitas kontrol berdasarkan kriteria, regulasi, atau standar tertentu.
Sederhananya:
Audit readiness menemukan gap sebelum auditor menemukannya.
Readiness assessment memberi bank waktu untuk memperbaiki dokumentasi, mengumpulkan evidence, menutup temuan, dan menguji kembali kontrol yang belum efektif.

6 Area yang Menentukan Kesiapan Audit Keamanan Bank
1. Governance dan Accountability
Bank perlu memiliki kebijakan keamanan, struktur tanggung jawab, pemilik risiko dan kontrol, proses persetujuan, hingga mekanisme evaluasi berkala.
Auditor dapat meminta bukti berupa kebijakan yang disahkan, notulen rapat, hasil review, maupun persetujuan atas pengecualian keamanan.
2. Cyber Risk dan Asset Visibility
Bank harus mengetahui aset, sistem, data, serta layanan kritikal yang perlu dilindungi.
Risk register, inventaris aset, klasifikasi informasi, hasil risk assessment, dan treatment plan perlu menggambarkan kondisi terkini, bukan sekadar dokumen lama yang belum diperbarui.
3. Preventive Security Controls
Area ini mencakup identity and access management, privileged access, network security, endpoint security, secure configuration, patch management, dan vulnerability management.
Keberadaan kebijakan belum cukup jika implementasi teknisnya tidak sesuai.
4. Detection dan Security Monitoring
Bank perlu mampu menunjukkan bahwa aktivitas keamanan benar-benar dimonitor.
Evidence dapat berupa security log, alert SOC/SIEM, tiket insiden, hasil review monitoring, serta mekanisme eskalasi ketika ditemukan aktivitas mencurigakan.
5. Incident Response dan Recovery
Incident Response Plan, backup, Disaster Recovery Plan (DRP), serta Business Continuity Plan (BCP) tidak cukup hanya tersedia.
Bank juga perlu membuktikan bahwa mekanisme tersebut pernah diuji dan hasil pengujiannya ditindaklanjuti.
Pelajari juga pembahasan mengenai audit incident response dan pengujian kesiapan menghadapi serangan siber.
6. Testing dan Remediation
Vulnerability Assessment, penetration testing, audit internal, dan security assessment membantu bank menemukan kelemahan.
Namun, hasil pengujian harus dilanjutkan melalui proses finding → remediation → retest → closure.
Untuk memahami perbedaannya, baca Penetration Testing dan Vulnerability Assessment.
Dokumen Saja Tidak Cukup, Auditor Membutuhkan Evidence
Salah satu kesalahan umum dalam persiapan audit adalah terlalu fokus mengumpulkan dokumen.
Security audit readiness seharusnya melihat alur:
Policy → Procedure → Implementation → Evidence → Effectiveness
Misalnya, bank memiliki prosedur review akses pengguna setiap tiga bulan. Auditor tidak hanya melihat prosedurnya, tetapi dapat meminta daftar pengguna, hasil review, approval atasan, tiket penghapusan akses, serta tanggal pelaksanaannya.
Dengan demikian, dokumentasi yang baik belum tentu menunjukkan kontrol yang efektif.
Security Audit Readiness Checklist
Lakukan pemeriksaan awal dengan beberapa pertanyaan berikut:
Apakah kebijakan keamanan telah direview dan disahkan?
Apakah cyber risk assessment menggambarkan kondisi terkini?
Apakah aset dan sistem kritikal telah teridentifikasi?
Apakah privileged access dan user access direview secara berkala?
Apakah temuan Vulnerability Assessment dan penetration testing memiliki status remediation?
Apakah security log dan alert dapat ditelusuri?
Apakah Incident Response Plan pernah diuji?
Apakah backup dan proses recovery telah diuji?
Apakah risiko keamanan pihak ketiga telah dievaluasi?
Apakah seluruh temuan audit sebelumnya sudah memiliki evidence penyelesaian?
Jika banyak pertanyaan belum dapat dijawab dengan evidence yang jelas, bank kemungkinan masih memiliki gap dalam kesiapan audit.
Cara Meningkatkan Security Audit Readiness
Mulailah dengan menentukan scope dan requirement audit. Selanjutnya, petakan setiap persyaratan dengan kontrol serta evidence yang dibutuhkan.
Lakukan readiness assessment untuk menemukan gap, kemudian prioritaskan remediation berdasarkan tingkat risiko. Setelah perbaikan selesai, lakukan validasi atau pre-audit review untuk memastikan kontrol telah berjalan dan bukti tersedia.
Untuk bank atau pihak yang termasuk dalam cakupan pengaturan Bank Indonesia, PBI Nomor 2 Tahun 2024 juga perlu diperhatikan. Regulasi tersebut mengatur KKS bagi penyelenggara sistem pembayaran, pelaku pasar uang dan valuta asing, serta pihak lain yang diatur dan diawasi Bank Indonesia, termasuk aspek identifikasi, proteksi, deteksi, respons, dan pemulihan.
Persiapkan Audit Keamanan Bank dengan Cyber Security Services
Menunggu hingga auditor menemukan gap dapat membuat proses remediation menjadi lebih reaktif.
Melalui Cyber Security Services, bank dapat melakukan assessment untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi kontrol keamanan, gap, risiko, prioritas perbaikan, hingga rekomendasi remediation sebelum memasuki audit formal.
PT Integra Teknologi Solusi menyediakan layanan terkait Audit Keamanan Informasi, Audit KKS, Vulnerability Assessment, Penetration Testing, dan assessment keamanan siber sesuai kebutuhan organisasi.
Pelajari lebih lanjut mengenai Audit Security Services Integra atau layanan Audit Keamanan Informasi.
Konsultasikan kesiapan audit keamanan bank Anda bersama tim Cyber Security Integra. Temukan dan perbaiki gap lebih awal sebelum menjadi temuan saat audit.





