Cara Memilih Konsultan Cyber Security Audit untuk Industri Perbankan

Cara Memilih Konsultan Cyber Security Audit untuk Industri Perbankan

Transformasi digital membuat layanan perbankan semakin bergantung pada aplikasi, jaringan, API, pusat data, cloud, serta integrasi dengan berbagai pihak ketiga. Di satu sisi, teknologi meningkatkan kecepatan layanan. Di sisi lain, semakin luasnya ekosistem digital juga meningkatkan eksposur terhadap risiko siber.

Karena itu, memilih konsultan cyber security audit tidak cukup hanya berdasarkan harga atau kemampuan melakukan vulnerability scanning. Bank membutuhkan auditor yang memahami risiko teknologi, tata kelola, regulasi, hingga bagaimana sebuah temuan harus ditindaklanjuti.

Lalu, apa saja yang perlu diperhatikan sebelum memilih konsultan?

Mengapa Cyber Security Audit Penting bagi Perbankan?

Keamanan siber merupakan bagian penting dari penyelenggaraan teknologi informasi bank. OJK melalui SEOJK Nomor 29/SEOJK.03/2022 mengatur ketahanan dan keamanan siber bagi bank umum, termasuk penilaian risiko inheren keamanan siber dan penerapan manajemen risiko siber.

Selain itu, sejak 1 Maret 2026 berlaku PADK OJK Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Teknologi Informasi oleh Bank Umum. Ketentuan tersebut antara lain mencakup tata kelola TI, manajemen risiko TI, pengamanan informasi, penggunaan penyedia jasa TI, pelindungan data, serta pengendalian dan audit intern.

Bagi bank atau penyelenggara yang masuk dalam ruang lingkup pengawasan Bank Indonesia terkait KKS, terdapat pula PBI Nomor 2 Tahun 2024 dan PADG Nomor 24 Tahun 2024 mengenai Keamanan Sistem Informasi dan Ketahanan Siber. Kerangka KKS mencakup aspek tata kelola, pencegahan, penanganan, pengawasan, dan kolaborasi.

Kondisi tersebut membuat audit keamanan siber tidak hanya menjadi persoalan teknis, tetapi juga bagian dari pengelolaan risiko dan kepatuhan.

Kenali Jenis Audit yang Dibutuhkan

Sebelum mencari konsultan, bank perlu memastikan objective dan scope pekerjaan. Sebab, cyber security assessment, penetration testing, audit keamanan informasi, dan Audit KKS memiliki tujuan berbeda.

Cyber Security Assessment

Digunakan untuk mengetahui kondisi keamanan saat ini, mengidentifikasi gap, dan memetakan risiko yang perlu diperbaiki.

Penetration Testing

Berfokus pada pengujian teknis untuk menemukan dan membuktikan kemungkinan eksploitasi kerentanan pada aplikasi, jaringan, atau infrastruktur.

Audit Keamanan Informasi

Audit mengevaluasi apakah kebijakan, proses, prosedur, dan kontrol keamanan telah diterapkan secara efektif berdasarkan kriteria audit yang ditentukan.

Bank dapat mempelajari lebih lanjut mengenai Jasa Audit Keamanan Informasi Integra sebagai salah satu referensi ruang lingkup audit keamanan.

Audit KKS

Untuk penyelenggara yang masuk dalam cakupan ketentuan Bank Indonesia, Audit KKS digunakan untuk mengevaluasi penerapan Keamanan Sistem Informasi dan Ketahanan Siber sesuai ketentuan yang berlaku.

Karena itu, bank sebaiknya tidak hanya meminta proposal dengan istilah umum seperti security audit, tetapi menentukan terlebih dahulu tujuan, regulatory requirement, sistem kritikal, dan output yang dibutuhkan.

Cara Memilih Konsultan Cyber Security Audit

1. Pastikan Memahami Regulasi Perbankan

Konsultan harus memahami bahwa keamanan siber perbankan berada dalam lingkungan highly regulated.

Selain kemampuan teknis, auditor perlu memahami ketentuan OJK, Bank Indonesia, manajemen risiko TI, keamanan informasi, serta regulasi lain yang berkaitan dengan ruang lingkup proyek.

2. Periksa Pengalaman di Industri Perbankan

Pengalaman pada regulated industry menjadi nilai penting karena lingkungan bank berbeda dengan perusahaan umum.

Konsultan sebaiknya memahami karakteristik sistem kritikal, transaksi digital, pengelolaan akses, audit trail, keamanan data nasabah, pihak ketiga, hingga proses pengumpulan evidence.

3. Evaluasi Kompetensi Tim Auditor

Jangan hanya mengevaluasi nama perusahaan.

Bank juga perlu mengetahui:

  • siapa auditor yang menjalankan proyek;

  • pengalaman proyek sejenis;

  • kompetensi dan sertifikasi yang relevan;

  • siapa project manager;

  • kemampuan tim memahami aspek teknis sekaligus governance dan risk.

4. Pastikan Metodologi Audit Jelas

Konsultan cyber security audit yang baik seharusnya mampu menjelaskan proses pekerjaan sejak awal.

Contoh alurnya:

Scope & Planning → Document Review → Interview → Evidence Validation → Testing → Gap Analysis → Reporting

Auditor juga perlu menjelaskan bagaimana evidence diverifikasi dan bagaimana tingkat risiko suatu temuan ditentukan.

5. Periksa Kualitas Output Audit

Audit seharusnya tidak berhenti pada checklist pass atau fail.

Laporan yang baik umumnya memuat:

  • executive summary;

  • ruang lingkup dan metodologi;

  • temuan dan evidence;

  • tingkat risiko;

  • akar permasalahan;

  • rekomendasi;

  • prioritas corrective action.

Hasil tersebut harus dapat dipahami tidak hanya oleh tim IT Security, tetapi juga Risk Management, Compliance, Internal Audit, hingga manajemen.

6. Pilih Konsultan yang Memberikan Rekomendasi Actionable

Temuan audit memiliki nilai apabila dapat diterjemahkan menjadi perbaikan.

Rekomendasi ideal menjawab:

Apa gap-nya → apa risikonya → apa yang perlu dilakukan → apa prioritasnya → bagaimana membuktikan closure-nya.

Pendekatan tersebut membantu bank melanjutkan audit menuju proses security remediation yang terukur.

7. Periksa Pengamanan Data dan Evidence

Selama audit, konsultan dapat memperoleh akses terhadap dokumen, konfigurasi, log, arsitektur, atau informasi sensitif lainnya.

Pastikan terdapat mekanisme yang jelas terkait NDA, akses auditor, penyimpanan evidence, transfer dokumen, retensi data, dan penghapusan data setelah engagement selesai.

Red Flags saat Memilih Konsultan Cyber Security Audit

Bank perlu berhati-hati apabila menemukan beberapa kondisi berikut:

  • scope audit terlalu generik;

  • auditor yang ditugaskan tidak jelas;

  • assessment hanya mengandalkan tools;

  • metodologi tidak dapat dijelaskan;

  • hasil audit hanya berupa checklist;

  • pengamanan evidence tidak jelas;

  • rekomendasi terlalu umum;

  • tidak ada mekanisme tindak lanjut temuan.

Harga tetap menjadi pertimbangan, tetapi sebaiknya dibandingkan bersama scope, kompetensi auditor, kedalaman pengujian, metodologi, dan kualitas deliverable.

Perkuat Keamanan Siber melalui Cyber Security Services

Memilih konsultan cyber security audit yang tepat bukan sekadar mencari pihak yang dapat menemukan sebanyak mungkin kelemahan. Tujuan akhirnya adalah memperoleh gambaran risiko yang objektif dan menentukan perbaikan yang paling prioritas.

Melalui Cyber Security Services, organisasi dapat melakukan evaluasi keamanan informasi, identifikasi risiko, assessment kontrol, hingga Audit KKS sesuai kebutuhan dan ruang lingkup regulasi yang relevan.

Jika bank Anda sedang mempersiapkan audit, mengevaluasi kondisi keamanan siber, atau menentukan ruang lingkup Audit KKS, konsultasikan kebutuhan tersebut bersama Tim Ahli PT Integra Teknologi Solusi agar pendekatan audit dapat disesuaikan dengan profil risiko dan kebutuhan organisasi.

Konsultasikan kebutuhan Cyber Security Services dan audit security services Anda sekarang.