Pengelolaan teknologi informasi (TI) tidak lagi sekadar memastikan sistem berjalan dengan baik. Organisasi, termasuk instansi pemerintahan, BUMN/BUMD, dan perbankan, perlu memastikan bahwa investasi TI mendukung tujuan bisnis, risiko terkendali, serta proses teknologi dapat dievaluasi secara objektif.
Di sinilah COBIT 2019 untuk IT Governance berperan sebagai kerangka kerja yang membantu organisasi menyelaraskan tata kelola dan pengelolaan TI dengan kebutuhan bisnis.
Namun, apakah IT Manager dan IT Auditor perlu memahami COBIT dengan cara yang sama? Meskipun menggunakan framework yang sama, keduanya memiliki fokus dan kebutuhan kompetensi berbeda.
Apa Itu COBIT 2019 dalam IT Governance?
COBIT 2019 adalah framework yang dikembangkan oleh ISACA untuk membantu organisasi membangun tata kelola dan pengelolaan informasi serta teknologi secara terstruktur.
Menurut ISACA, COBIT 2019 memiliki 40 governance and management objectives yang dikelompokkan ke dalam lima domain:
EDM (Evaluate, Direct and Monitor): Mengevaluasi kebutuhan, memberikan arahan, dan memantau tata kelola.
APO (Align, Plan and Organize): Menyelaraskan strategi dan merencanakan pengelolaan TI.
BAI (Build, Acquire and Implement): Mengelola pengembangan, pengadaan, dan implementasi solusi TI.
DSS (Deliver, Service and Support): Mengelola layanan, operasional, dan dukungan TI.
MEA (Monitor, Evaluate and Assess): Memantau kinerja, pengendalian internal, dan kepatuhan.
Kelima domain tersebut membantu organisasi menghubungkan tujuan bisnis dengan aktivitas pengelolaan teknologi secara lebih sistematis.
Konsep COBIT 2019 yang Perlu Dipahami
Sebelum menerapkan framework COBIT, profesional TI dan auditor perlu memahami beberapa konsep utama.
1. Governance dan Management Objectives
COBIT membedakan governance yang berfokus pada evaluasi, pengarahan, dan pemantauan dengan management yang menjalankan perencanaan, implementasi, serta operasional.
Pemahaman ini penting agar organisasi dapat membedakan tanggung jawab pengambil keputusan dan pelaksana proses TI.
2. Goals Cascade
Goals cascade membantu menerjemahkan kebutuhan pemangku kepentingan menjadi enterprise goals, alignment goals, dan prioritas governance maupun management objectives.
Dengan demikian, penerapan COBIT tidak sekadar memenuhi daftar kontrol, tetapi mendukung tujuan organisasi.
3. Design Factors
Setiap organisasi memiliki strategi, risiko, dan kebutuhan teknologi berbeda.
Design factors membantu menentukan prioritas tata kelola berdasarkan kondisi tersebut. Misalnya, bank dengan ketergantungan tinggi pada layanan digital dapat memprioritaskan pengelolaan risiko dan keamanan informasi.
4. COBIT Performance Management
Konsep ini membantu organisasi mengevaluasi kapabilitas proses, mengidentifikasi kesenjangan, serta merencanakan peningkatan yang terukur.
Apa yang Perlu Dipahami IT Manager dari COBIT 2019?
IT Manager bertanggung jawab memastikan pengelolaan teknologi mendukung kebutuhan organisasi.
Karena itu, pemahaman COBIT perlu difokuskan pada kemampuan:
Menyelaraskan strategi TI dengan tujuan organisasi, termasuk menentukan prioritas investasi dan pengembangan teknologi.
Mengelola risiko TI, seperti keamanan informasi, gangguan layanan, risiko vendor, dan kegagalan proyek.
Menentukan prioritas peningkatan proses berdasarkan hasil evaluasi kapabilitas TI.
Memperjelas tanggung jawab dan akuntabilitas dalam pengelolaan teknologi.
Menyusun roadmap perbaikan agar hasil evaluasi dapat diterjemahkan menjadi tindakan nyata.
Sebagai contoh, IT Manager pada BUMD dapat menggunakan COBIT untuk membantu mengevaluasi pengelolaan layanan TI dan menentukan prioritas perbaikan yang selaras dengan kebutuhan operasional.
Apa yang Perlu Dipahami IT Auditor dari COBIT 2019?
Berbeda dengan IT Manager, IT Auditor menggunakan COBIT sebagai salah satu referensi untuk mengevaluasi tata kelola, risiko, dan pengendalian TI.
Kompetensi yang perlu dikembangkan meliputi:
Memahami governance objectives dan management objectives yang relevan dengan ruang lingkup audit.
Menentukan area pemeriksaan berdasarkan risiko.
Menghubungkan objective COBIT dengan kriteria audit dan bukti pemeriksaan.
Mengevaluasi kesenjangan antara kondisi aktual dan kriteria yang ditetapkan.
Menyusun temuan serta rekomendasi perbaikan yang dapat ditindaklanjuti.
Misalnya, auditor TI pada perbankan dapat menggunakan COBIT untuk membantu mengevaluasi pengelolaan perubahan sistem, pengendalian operasional, atau pemantauan kinerja TI.
Penggunaan COBIT tetap perlu disesuaikan dengan tujuan audit dan ketentuan regulasi yang berlaku.
Perbedaan Kebutuhan COBIT bagi IT Manager dan IT Auditor
| Aspek | IT Manager | IT Auditor |
|---|---|---|
| Fokus | Pengelolaan dan peningkatan TI | Evaluasi dan assurance |
| Tujuan | Meningkatkan kinerja serta tata kelola | Menilai efektivitas pengendalian |
| Pendekatan | Perencanaan dan implementasi | Pemeriksaan berbasis risiko |
| Output | Roadmap peningkatan TI | Temuan dan rekomendasi audit |
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan kompetensi COBIT perlu disesuaikan dengan peran dan tanggung jawab peserta.
Manfaat Penguasaan COBIT 2019 bagi Organisasi
Pemahaman COBIT yang baik tidak hanya memberikan manfaat bagi individu, tetapi juga mendukung penguatan kapabilitas organisasi.
Beberapa manfaatnya meliputi:
Meningkatkan keselarasan antara strategi bisnis dan TI.
Memperkuat koordinasi antara manajemen TI, auditor, serta fungsi risiko dan kepatuhan.
Membantu organisasi mengidentifikasi kelemahan proses dan pengendalian.
Mendukung penyusunan prioritas peningkatan tata kelola TI.
Meningkatkan kesiapan organisasi menghadapi evaluasi dan kebutuhan kepatuhan.
Manfaat tersebut akan lebih optimal apabila pemahaman framework dapat diterapkan dalam pekerjaan sehari-hari.
Kapan Organisasi Membutuhkan Training COBIT 2019?
Kebutuhan training muncul ketika organisasi menghadapi kesenjangan antara pemahaman framework dan kemampuan penerapannya.
Beberapa indikatornya adalah:
Tim memahami domain COBIT, tetapi kesulitan menentukan objective yang relevan.
Hasil assessment belum dapat diterjemahkan menjadi roadmap perbaikan.
IT Manager dan auditor memiliki interpretasi berbeda terhadap penerapan COBIT.
Organisasi sedang mempersiapkan evaluasi tata kelola atau transformasi TI.
HR/L&D perlu meningkatkan kompetensi tim sesuai tanggung jawab masing-masing.
Dalam kondisi tersebut, corporate atau in-house training COBIT 2019 dapat menjadi pendekatan yang relevan.
Materi pelatihan dapat disesuaikan berdasarkan tingkat kompetensi, fungsi pekerjaan, serta kebutuhan organisasi. Pendekatan berbasis studi kasus dan latihan praktis juga membantu peserta memahami penerapan COBIT dalam situasi pekerjaan.
Tingkatkan Kompetensi COBIT 2019 melalui IT Training
COBIT 2019 membantu IT Manager dan IT Auditor memahami tata kelola TI dari perspektif yang saling melengkapi. IT Manager berfokus pada pengelolaan dan peningkatan, sedangkan auditor berfokus pada evaluasi serta pemberian assurance.
Agar penerapannya efektif, organisasi membutuhkan pengembangan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan setiap fungsi.
PT Integra Teknologi Solusi menyediakan layanan IT Training untuk mendukung peningkatan kompetensi profesional, termasuk pelatihan COBIT, IT Governance, ISO 27001, TOGAF, dan bidang TI lainnya.
Program pelatihan dapat disesuaikan dengan kebutuhan organisasi, tingkat kemampuan peserta, dan tujuan peningkatan kapabilitas tim.
Ingin meningkatkan kompetensi IT Manager, IT Auditor, atau tim tata kelola TI?
Konsultasikan kebutuhan IT Training perusahaan Anda bersama Integra Teknologi Solusi untuk menentukan materi dan pendekatan pelatihan yang sesuai.





